HARI RAYA
Hari raya disebut pula rerahinan artinya hari baik, suci atau keramat untuk melakukan yadnya yaitu mengadakan pemujaan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasiNya dan para leluhur. Dalam hal akan dikemukakan beberapa jenis hari raya.
1. Berdasarkan Triwara dan Pancawara
Kliwon: datangnya setiap 5 (lima) hari sekali. Sang Hyang Siwa bersemadi, oleh sebab itu dilakukan pemujaan terhadap sang Hyang Siwa.
Kajeng Kliwon: datangnya setiap 15 (lima belas) hari sekali, pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa. Segehan dihaturkan kepada Sang Hyang Durgha Dewi. Dibawah/ditanah ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari, Sang Kala Bucari dan sang Durgha Bucari.
2. Berdasarkan Satpawara dan Pancawara
Anggara Kliwon: disebut Anggara Kasih, pada hari ini beryogalah Sang Hyang Ayu, Sang Hyang Ludra. Persembahan berupa canang, semoga beliau melimpahkan welas asihNya, menghilangkan/melebur segala keletuhan (kekotoran) di dunia.
Buda Wage: hari ini disebut pula Buda Cemeng beryogalah Sang Hyang Manik Galih menurunkan Sang Hyang Ongkara Mreta di Bumi ini. Yadnya dipersembahkan di Sanggar Kemulan kehadapan Dewi Sang Hyang Sri Nini, agar diciptakan kemakmuran dunia.
Saniscara Kliwon: namanya sering disesuaikan dengan wukunya. Hari ini adalah penyucian Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati, persembahan ditujukan kepadaNya.
Saniscara Kliwon: hari ini disebut Tumpek, yadnya atau persembahan ditujukan kehadapan Sang Hyang Prama Wisesa.
3. Berdasarkan Pawukon
Banyu Pinaruh: Redite Paing Sinta Mohon anugrah Sang Hyang Saraswati. Mandi dengan air kumkuman (air bersih bersampur bunga harum) lalu mohon tirta (air suci) agar suci/bersih lahir batin.
Soma Ribek: Soma Pon Sinta. Sang Hyang Tri Murti sedang beryoga dan lumbung sebagai tempatnya. Pada hari ini diadakan widhi-widhana untuk selamatan atau penghormatan terhadap beras di pulu dan padi di lumbung yang sekaligus mengadakan pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai tanda bersyukur serta semoga tetap memberi kesuburan. Sebaiknya pada hari ini tidak menumbuk padi atau menjual beras.
Sabuh Mas: Anggara Wage Sinta. Pemujaan terhadap Hyang Mahadewa sebagai tanda bersyukur semoga selalu melimpahkan restunya pada harta dan barang-barang berharga termasuk perhiasan dengan mengadakan upacara yadnya/widhi widhana.
Pagerwesi: Buda Kliwon Sinta. Merupakan hari payogan Hyang Pramesti Guru disertai dengan para Dewata Nawa Sanga demi keselamatan alam beserta isinya. Pada hari ini disamping menghaturkan widhi widhana di sanggar Kemulan dan menenangkan pikiran dengan melakukan yoga semadhi.
Tumpek Landep: Saniscara Kliwon Landep. Mengadakan upacara selamatan terhadap semua jenis alat yang tajam atau senjata, serta memohon kehadapan Bhatara Siwa dan Sang Hyang Pasupati agar semua alat/senjata tetap bertuah.
Redite Umanis Ukir: Persembahan kehadapan Bhatara Guru di Sanggar Kemulan.
Buda Cemeng Ukir: Buda Wage Ukir. Persembahan terhadap Sang Hyang Sri Nini, Dewa Sadhana pada tempat menyimpan harta benda dan hari ini tidak baik untuk membayar sesuatu.
Anggara Kasih Kulantir: Anggara Kliwon Kulantir. Pada hari ini dilakukan pemujaan kehadapan Bhatara Mahadewa.
Tumpek Uduh, Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah, Tumpek Bubuh: Saniscara Kliwon Wariga. Hari ini adalah merupakan peringatan "Kemakmuran", penghormatan kepada tumbuh-tumbuhan serta pemujaan kehadapan Sang Hyang Sangkara. Pada hari ini diadakan upacara yadnya selamatan kepada tumbuh-tumbuhan agar tetap memberikan hasil yang baik.
Saniscara Paing Warigadean: Adalah merupakan hari penyucian Bhatara Brahma dan patut melakukan persembahan.
Anggara Kasih Julungwangi: Anggara Kliwon Julungwangi. Hari ini juga disebut Anggara Kasih Panguduhan yang bertujuan untuk memulai mengadakan pembersihan pada tiap-tiap Parhyangan dalam rangka menyambut hari raya Galungan.
Sugian Jawa (Parerebon): Wraspati Wage Sungsang. Pada hari ini disebut juga Parerebon, turunlah semua Bhatara ke dunia.
Sugian Bali: Sukra Kliwon Sungsang. Manusia hendaknya memohon kesucian, pembersihan lahir bathin kehadapan semua Bhatara.
Penyeleban: Radite Paing Dungulan. Pada hari ini sebaiknya waspada dan hati-hati serta menguatkan iman agar tidak tergoda kena pengaruh Sang Bhuta Galungan. Penyekeban berarti berusaha untuk menguasai/mengendalikan diri.
Penyajaan Galungan: Soma Pon Dungulan. Perlu berhati-hati dan mawas diri karena adanya pengaruh dari Sang Bhuta Dungulan.
Penampahan Galungan: Anggara Wage Dungulan. Pada hari ini dikuasai oleh Sang Bhuta Amengkurat. Oleh karenanya setelah matahari terbenam dilakukan upacara biakala (mabiakala) agar tetap terhindar dari pengaruh Kala Tiganing Galungan yang dilakukan di halaman rumah. Saat hari ini juga dipasang penjor lengkap dengan segala hiasannya.
Hari Raya Galungan: Buda Kliwon Dungulan. Hari ini merupakan peringatan atas terciptanya alam semesta beserta isinya dan kemenangan dharma melawan adharma. Umat Hindu melakukan persembahan kehadapan Sang Hyang Widhi dan dewa Bhatara /dengan segala manifestasinya sebagai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk keselamatan selanjutnya. Sedangkan penjor yang dipasang di muka tiap-tiap perumahan yaitu merupakan aturan kehadapan Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung.
Manis Galungan: Wraspati Umanis Dungulan. Melakukan upacara nganyarin/penyucian di Pamarajan/Sanggar Kemulan yang ditujukan kehadapan Hyang Kawitan dan Leluhur.
Pamaridan Guru: Saniscara Pon Dungulan. Adalah kembalinya para Dewa ke Sunyaloka dengan meninggalkan kesejahteraan dan panjang umur pada umatnya. Pada hari ini umat melakukan upacara keselamatan, bersembahyang dengan maksud menghaturkan suksma dan mohon penugrahan kerahayuan.
Ulihan: Radite Wage Kuningan. Pada hari ini menghaturkan canang raka dan runtutannya kehadapan Bhatara-Bhatari, beliau kembali ke singgasana/Kahyangan masing-masing.
Pamecekan Agung: Soma Kliwon Kuningan. Hari ini pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi/Sang Hyang Pramatwara dengan menghaturkan upacara memohon keselamatan. Sore hari (sandikala) dilakukan upacara segehan di halaman rumah dan di muka pintu pekarangan rumah yang ditujukan kepada Sang Kala Tiga Galungan beserta pengiring-pengiringnya, agar kembali dan memberi keselamatan.
Buda Paing Kuningan: pujawali Bhatara Wisnu.
Hari Raya Kuningan: Saniscara Kliwon Kuningan. Pada hari ini menghaturkan sesaji dan persembahan atas turunnya kembali Sang Hyang Widhi disertai oleh Dewata atau Pitara mohon keselamatan dunia dengan segala isinya. Upacara dilangsungkan hanya sampai pukul 12.00 ("tajeg surya"), sebab setelah itu para dewata semuanya kembali ke Suralaya.
Buda Kliwon Pegatwakan: Buda Kliwon Pahang. Hari ini mengaturkan sesaji yaitu persembahan kehadapan para Dewa Bhatara terutama Sang Hyang Widhi (Sang Hyang Tunggal), sebagai tanda puji syukur atas kemurahan beliau melimpahkan rahmatNya untuk kedirgayusaning keselamatan alam semesta beserta isinya.
Tumpek Krulut: Saniscara Kliwon Krulut. Mengaturkan sesaji dan memuja Sang Hyang Widhi Wasa/Bhatara Iswara di Pamarajan/Sanggar Kemulan, memohon keselamatan.
Buda Cemeng Merakih: Buda Wage Merakih. Pemujaan kehadapan Bhatara Rambut Sadhana yang disebut juga Sang Hyang Rambut Kadhala.
Tumpek Kandang: Saniscara Kliwon Uye. Hari ini merupakan weton wewalungan, mengadakan upacara selamatan terhadap binatang peliharaan/ternak dan pemujaan terhadap Sang Rare Angon sebagai dewanya ternak, supaya terhindar dari segala penyakit dan tetap dalam keadaan sehat, selamat serta menyenangkan.
Tumpek Wayang: Saniscara Kliwon Wayang. Pada hari ini diadakan upacara yang berkenaan dengan kesenian khususnya wayang, persembahan kehadapan Bhatara Iswara, memohon agar kesenian itu lestari, menyenangkan dan bertuah.
Buda Cemeng Kulawu: Buda Wage Kulawu. Hari ini pemujaan terhadap Bhatara Rambut Sadhana yang melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Hari Raya Saraswati: Saniscara Umanis Watugunung. Pada hari ini adalah merupakan hari pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati yaitu perayaan turunnya ilmu pengetahuan. Dilakukan upacara selamatan terhadap semua pustaka/rontal/kitab sebagai penghormatan dan tanda puji syukur kehadapan beliau yang telah menurunkan ilmu pengetahuan dan mohon selamat serta jaya dalam bidang ilmu pengetahuan. Pemujaan ditujukan kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati / Bhatara Saraswati sebagai dewaning pangaweruh.